Resume 14 - Ibnu Rusyd: Sejarah dan Pemikiran Filsafatnya

Ibnu Rusyd atau nama lengkapnya Abu al-Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusyd, berasal dari keturunan Arab yang lahir di Andalusia, Spanyol tepatnya di kota Kordoba tahun 1198 M. Beliau lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga yang mempunyai perhatian sangat besar terhadap ilmu pengetahuan terutama ilmu fiqh dan hukum. Perkembangan intelektualnya dapat dilihat melalui latar belakang keluarganya. Ia belajar ilmu-ilmu keislaman sejak dini. Adapun karir Ibnu Rusyd dalam filsafat diraihnya melalui pergaulan dari Ibnu Thufail yang membawanya dekat dengan Khalifah Abu Yusuf al-Mansur, dan kemudian memintanya untuk menuliskan ulasan-ulasan terhadap pemikiranpemikiran Aristoteles. Oleh karena itu ia memperoleh julukan Al-Syarih (The Commentator). Akan tetapi pada masa khalifah Abu Ya’qub, keilmuan filsafat sangat ditentang. Termasuk yang dialami oleh Ibnu Rusyd yang dituduh telah menjadi kafir, dibuang, bahkan karya-karya tulisnya dibakar. 

Terdapat tiga pendapat serta kritik dari Al-Ghazali yang disanggah oleh Ibnu Rusyd. Pertama, mengenai alam Qadim yang menurut Ibnu Rusyd, alam memang semestinya Qadim dikarenakan tidak ada penciptaan yang benar-benar dari kehampaan melainkan hanya mengganti yang sudah ada sebelumnya. Kedua, Al-Ghazali merasa tuhan tidak tahu detail akan ciptaannya, ini jelas salah karena pengetahuan tuhan tidak bisa disamakan dengan manusia yang memiliki keterbatasan dari panca indera nya. Ketiga, terkait adanya kebangkitan jasmani, Ibnu Rusyd juga tidak sependapat, beliau menggunakan analogi tidur yang kurang lebih sama dengan kematian, disaat kita tidur jiwanya akan tetap hidup, begitu juga dengan kematian yang dimana jiwa kita tetap akan hidup walaupun raga kita hancur lebur. Jadi saat di akhirat nanti kita tidak akan mendapatkan tubuh fisik kita kembali, melainkan hanya hidup sebagai roh. 

Ibnu Rusyd memandang kausalitas sebagai hukum sebab-akibat yang dapat dijelaskan secara rasional dan empiris. Di sisi lain, Al-Ghazali menolak kausalitas sebagai hukum alamiah, lebih memilih pandangan bahwa semua peristiwa sebagai kehendak langsung Allah. Kritik Ibnu Rusyd terhadap Al-Ghazali mencerminkan 13 upayanya untuk mempertahankan rasionalitas dalam pemikiran filsafat Islam. Dalam memahami mu'jizat, Al-Ghazali menempatkannya di luar jangkauan akal manusia, sementara Ibnu Rusyd mengklasifikasikannya menjadi dua jenis, salah satunya dapat dijelaskan secara ilmiah dan salah satunya mu’jizat sesunggunya yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah. Keseluruhan, pandangan Ibnu Rusyd menggabungkan dimensi filosofis dan teologis, menciptakan keseimbangan antara rasionalitas dan keyakinan agama dalam konsepsi kausalitas dan mu'jizat. 

Sepanjang hidupnya, Ibnu Rusyd tercatat telah menghasilkan karya tulis sekitar 78 buku dan catatan. Adapun karya-karya tulis tersebut terdiri dari 39 judul tentang filsafat, lima tentang ilmu alam, delapan tentang fikih, empat tentang ilmu falak, matematika dan astronomi, dua tentang nahwu dan sastra dan 20 judul tentang kedokteran. Namun sayangnya karya-karya tersebut banyak yang raib sebab Ibn Rusyd sering kali menjadi bahan kontroversial dari para otoritas pada zamannya yang menolak pemikiran-pemikiran filsafat. Oleh karena itu, ia menjadi korban fitnah dan pengasingan bahkan karya-karya tulisnya pun dibakar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resume 11 - Al-Ghazali: Sejarah dan Pemikiran Filsafatnya

Resume 10 - Ikhwan Al-Shafa: Sejarah dan Pemikiran Filsafatnya