Keberadaan Hizbut Tahrir di Indonesia
Dalam jurnal ilmiah yang berjudul "The Quest for Hizbut Tahrir in Indonesia" karya Burhanuddin Muhtadi, kebangkitan kekhalifahan Islam global, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di era pasca rezim Soeharto pada tahun 1998. Keruntuhan pemerintahan Soeharto memberi ruang luas bagi HTI dalam menjalankan misi mereka untuk menyebarkan dakwah al-khalifah al-Islamiyah. Ditambah saat itu masyarakat sedang kecewa terkait kondisi sosial-ekonomi pada era reformasi, memudahkan HTI mendapatkan simpatisannya.
Meskipun kehadiran dan aktivitas kelompok Islam radikal Hizbut Tahrir hanya mendapat sedikit perhatian dari para ulama, HT dengan cepat menjadi fenomena dunia dalam beberapa tahun terakhir. Dari sedikit penelitian tentang HT yang dilakukan dalam lima tahun terakhir, sebagian besar diantaranya mendekati partai dengan menggunakan analisis keamanan. Namun, kajian mereka mengenai kelompok HTI tidak didasari atas pengetahuan mereka tentang kajian Islam sehingga sikap mereka cenderung menyimpulkan secara sepihak bahwa HT (Hizbut Tahrir adalah kelompok teroris seperti Al-Qaeda.
Meski tuduhan tersebut tidak terbukti, bukan berarti kita boleh tidak mawas diri. Kebangkitan HTI yang begitu cepat di era kemunduran Soeharo tahun 1998 menciptakan peluang menjamurnya gerakan-gerakan Islam, seperti Front Pembela Islam (FPI), Majelis Mujahiddin Indonesia (MMI), termasuk HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), dan sebagainya. Perkembangan organisasi HTI pasca orde baru membuka ruang bagi mereka untuk mengekspresikan pandangan-pandanganya secara luas dan terbuka. Terbukti pada tahun 2000 HTI telah menarik perhatian publik melalui konferensi internasional dengan mengaungkan dakwah al-khalifah al-Islamiyah yang dihadiri ratusan anggota dan simpatisan HTI di Jakarta,
Keberadaan HTI di tengah-tengah kehidupan negara-bangsa modern dan demokrasi dengan tujuan membangun kembali khalifah Islam yang tunggal justru memicu polemik. Sebab negara-bangsa demokrasi, termasuk Indonesia dianggap tidak Islami. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa kebangkitan HTI disebabkan runtuhnya era rezim Soeharto. Hal itu karena pengunduran diri Soeharto di tahun 1998 memberikan peluang besar bagi berbagai kelompok Islam maupun di luar Islam untuk menyuarakan pendapat dan ide masing-masing. Selain itu, fakta bahwa tahun-tahun awal era reformasi memicu ketidakstabilan politik, ekonomi, dan sosial mendorong peningkatan pesat HTI. Mereka mengambil kesempatan kondisi tidak stabil ini dengan menyebarkan propaganda untuk menyudutkan kekuasaan pemerintah.
Meskipun bukan satu-satunya organisasi Islam yang radikal di Indonesia, HTI sangat berpegang teguh menjadikan negara-negara mayoritas Islam menjadi satu ideologi dan satu pemimpin untuk melawan pemikiran barat yang dinilai telah meracuni nilai Islam. Slogan "Selamatkan Indonesia dengan Syariah dan Khalifah" terus digaungkan para kadernya guna memperluas ideologinya. Walaupun sudah dibubarkan, ideologi tetaplah tumbuh dalam pemikiran mantan kadernya yang masih hidup di lingkungan kampus hingga saat ini.
Penulis: Anzalna Falatena / 3B Jurnalistik
Komentar
Posting Komentar