Resume 7 - Al-Razi: Sejarah dan Pemikiran Filsafatnya
Al-Razi (Rhazes) dengan nama lengkap Abu Bakr Muhammad Zakariyya al-Razi
lahir di Ray, Teheran pada 251 H/865 M dan meninggal pada tahun 311 H/925 M
(dikatakan juga 313 H) di Baghdad.Karya Al-Razi dalam bidang kedokteran dan
lainnya mencapai 113 karya besar, 28 karya kecil dan 2 puisi yang beberapa di
antaranya telah diterjemahkan ke bahasa Latin dan bahasa Inggris (Aktar et al. 2011,
245-246), maka tak berlebihan jika dikatakan bahwa Al-Razi adalah seorang
mujtahid.
Al-Razi adalah seorang yang selalu mengagungkan akal, ini terbantah karena pendapat
demikian adalah sebuah tuduhan-tuduhan yang diberikan kepadanya dari lawan-lawan
debatnya. Hal seperti ini lumrah terjadi karena untuk kepentingan politik semata yang
kalah tetapi tidak sadar diri. Dalam bukunya al- Thibb al-Ruhani tidak ditemukan
keterangan bahwa al-Razi mengingkari kenabian ataupun agama, namun sebaliknya ia
mewajibkan untuk menghormati agama dan berpegang teguh kepada agama, karena
dengan agama akan mendapatkan kenikmatan di akhirat berupa surga dan
mendapatkan keuntungan berupa ridha Allah.
Dalam filsafatnya mengenai hubungan manusia dengan Tuhan, Al-Razi memandang
kesenangan manusia sebenarnya adalah kembali pada Tuhan dengan meninggalkan
alam materi. Untuk kembali ke Tuhan, ruh harus terlebih dahulu disucikan dan yang
dapat mensucikan ruh ialah ilmu pengetahuan dan berpantang mengerjakan beberapa
hal. Pemahaman al-Razi dekat menyerupai zahid dalam hidup kebendaan. Tetapi
Al-Razi menganjurkan jangan terlalu mencari kesenangan.
Abu Bakr Muhammad ibn Zakariya al-Razi, atau Rhazes meyakini bahwa jiwa adalah
entitas independen, terpisah dari tubuh, membedakan manusia dari organisme lain.
Rhazes menekankan pengalaman sensoris dan akal budi sebagai sarana untuk
memperoleh pengetahuan jiwa. Dia mempertanyakan keabadian roh setelah kematian,
menganggapnya sebagai keabadian yang selalu hidup namun bodoh. Rhazes
menganjurkan ilmu pengetahuan sebagai cara untuk mendekatkan manusia kepada
Tuhan, sejalan dengan pandangan Pythagoras tentang kesenangan sejati manusia. Ia
juga mempertahankan sikap skeptis terhadap konsep metafisika seperti reinkarnasi,
menekankan bukti empiris dan argumentasi rasional sebagai landasan pengetahuan
jiwa. Pendekatan Rhazes mencerminkan kompleksitas pandangannya tentang filsafat
jiwa.
10
Bagi Al-Razi, kematian bukanlah suatu hal yang perlu ditakuti, karena bila tubuh
hancur, maka ruh juga hancur. Setelah mati, tak sesuatu pun terjadi pada manusia,
karena ia tidak merasakan apa-apa lagi.Al-Razi juga mengkritik kitab-kitab suci, baik
Injil maupun Al-Qur’an. Ia mengkritik yang satu dengan menggunakan yang lain. Ia
menolak mukjizat Al-Qur’an baik segi isi maupun gaya bahasanya. Boleh jadi
pendapatnya yang ekstrim inilah menyebabkan buku-bukunya dimusnahkan.
Komentar
Posting Komentar